BANTUL – Beberapa tahun lalu Kebun Buah Mangunan sempat berjaya, jauh sebelum destinasi wisata di kawasan Mangunan bermunculan.
Namun kini jumlah wisatawan ke Kebun Buah Mangunan terus merosot.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mencatat jumlah kunjungan wisatawan ke Kebun Buah Mangunan selama tahun 2024 lalu sebanyak 94.972 orang.
Jumlah tersebut menurun drastis jika dibandingkan dengan kunjungan tahun sebelumnya sebanyak 115.351 orang.
Dari catatan DKPP Bantul, jumlah kunjungan ke Kebun Buah Mangunan pada tahun 2018 lalu sebanyak 339.510 orang, kemudian menurun di tahun 2019 menjadi 274.193 orang, menurun lagi di tahun 2020 menjadi 92.00 orang, kemudian tahun 2021 turun lagi ke angka 64.900 orang.
Pada tahun 2022 jumlah kunjungan sebanyak 41.556 orang.
Setahun kemudian jumlah kunjungan meningkat menjadi 115.351 pada 2023, namun kembali merosot di tahun 2024 lalu menjadi 94.972 orang.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo mengatakan ada berbagai aspek yang membuat kunjungan ke Kebun Buah Mangunan menurun.
Pertama, karena musim penghujan yang mengurungkan niat wisatawan berkunjung ke objek wisata alam terbuka ini.
Kedua, karena tidak setiap saat musim buah. Karena tiap jenis buah berbeda berbuahnya.
Untuk Desember dan Januari misalnya usim mangga dan rambutan, Januari Februari musim durian, Maret April musim jeruk, Maret, Juli dan November musim buah jambu dersono.
Sedangkan sirsak dan sayur-sayuran dapat dinikmati setiap saat.
Ketiga, banyak serangan monyet ekor panjang yang menghabiskan buah.
Keempat, fasilitas yang monoton. Joko mengakui tidak banyak inovasi yang dilakukan di Kebun Buah Mangunan.
“Jadi kalah sama wisata-wisata yang dikelola swasta dan masyarakat,” ucapnya.
Selain itu, Joko menyebut dampak wabah Covid-19 hingga kini masih terasa. Menurutnya, penurunan kunjungan wisatawan sangat terasa sejak sejak Covid-19.
“Dampak corona sampai sekarang masih terasa,” ujarnya.
Karena itu tahun ini pihaknya juga hanya menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pengunjung Kebun Buah Mangunan sekitar Rp800 juta.
Jumlah tersebut jauh jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu yang bisa mencapai Rp2 miliar. (sya)














