FaktaYogyakarta.id, BANTUL – Sejumlah SMP Negeri di Bantul kekurangan siswa dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025. Fenomena ini terjadi meski pendaftaran sudah ditutup dan pemenuhan daya tampung telah dilakukan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menyampaikan bahwa penyebab utama kekurangan siswa adalah perpindahan calon siswa ke pondok pesantren, meskipun mereka sebelumnya telah dinyatakan lolos di sekolah negeri.
“Yang kekurangan murid itu SMPN 2 Sanden dan SMPN 2 Kretek. Sanden kekurangan sekitar 20 siswa, sedangkan Kretek kurang enam. Kami sudah mencoba melakukan pemenuhan daya tampung, tapi tetap tidak terpenuhi,” ungkap Nugroho pada Jumat (11/7/2025).
Ia menekankan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh sistem token SPMB, melainkan keputusan wali murid yang lebih memilih jalur pendidikan berbasis pesantren. “Banyak yang sudah diterima, tapi kemudian memilih untuk mundur dan pindah ke pondok pesantren,” tambahnya.
Meski ada kekurangan siswa, Nugroho menilai situasi ini belum masuk kategori krisis pendidikan di Bantul. “Kekurangannya masih sedikit dan masih bisa ditangani,” ujarnya optimistis.
Untuk jenjang SD, pihak Disdikpora juga mengamati ada indikasi kekurangan murid, namun laporan resmi dari sekolah masih ditunggu. Di sisi lain, pelaksanaan SPMB 2025 secara umum dinilai berjalan lancar, meskipun masih ditemukan tantangan dalam pembuatan token pendaftaran.
“Sosialisasi sistem token perlu diperkuat karena banyak wali murid yang belum paham atau mengalami kesulitan teknis,” jelas Nugroho.
Realita di lapangan menunjukkan bahwa migrasi siswa ke pesantren atau lembaga non-formal turut memengaruhi komposisi siswa di sekolah negeri. Disdikpora Bantul akan terus mengevaluasi sistem dan memperkuat komunikasi dengan wali murid untuk mengantisipasi hal serupa di masa depan.














