FaktaYogyakarta.id, YOGYAKARTA – Suasana siang hari di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (27/8/2025), tampak seperti biasa. Wisatawan masih hilir-mudik, pedagang sibuk melayani pembeli, dan deretan becak terparkir rapi di Jalan Pajeksan, salah satu akses keluar dari pusat wisata kota. Namun, di balik keramaian itu, kabar duka menyelimuti para penarik becak.
Subagio (69), seorang tukang becak asal Kemantren Gedongtengen, ditemukan meninggal dunia di atas becaknya yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Becak yang setiap hari ia kayuh menjadi tempat terakhir pria sepuh itu menghembuskan napas.
Menurut kesaksian rekannya, Yohanes Parjono, sekitar pukul 09.30 WIB Subagio terlihat beristirahat di atas becaknya. “Saya kira beliau hanya tertidur karena cuaca siang itu cukup panas,” ungkapnya. Namun, ketika kembali sekitar satu jam kemudian, Subagio sudah tak bergerak. Tubuhnya kaku, mulut terbuka, tanda ia telah berpulang.
Kabar meninggalnya Subagio di kawasan Malioboro dengan cepat mengundang perhatian warga sekitar. Tim medis 119 dan Inafis Polresta Yogyakarta segera tiba di lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Dari hasil pengecekan, Subagio dinyatakan meninggal akibat serangan jantung yang sudah lama ia derita, disertai riwayat asma.
Jalan Pajeksan yang biasanya ramai denting bel becak mendadak hening. Rekan-rekan sesama tukang becak larut dalam duka, menunduk haru melihat sahabat mereka pergi dengan tenang di kursi kayuhannya.
Bagi banyak orang, sosok Subagio bukan sekadar tukang becak. Ia adalah bagian dari denyut nadi Malioboro, wajah ramah yang menyambut wisatawan dengan senyum tulus. Kini, becaknya terparkir diam, menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang pekerja keras yang setia pada profesinya.
Jenazah Subagio kemudian disemayamkan di Balai RW Kampung Pajeksan sebelum dimakamkan. Kepergiannya meninggalkan kenangan tentang ketulusan, kerja keras, dan pengabdian seorang tukang becak Malioboro yang menghabiskan hidupnya di jalanan kota budaya ini.














