FaktaYogyakarta.id, NASIONAL – Masyarakat di berbagai daerah Indonesia mulai bertanya-tanya, kenapa hujan masih sering turun padahal kalender musim sudah menunjukkan kemarau? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami fenomena kemarau basah.
Kemarau basah merupakan kondisi saat musim kemarau di Indonesia tetap disertai curah hujan yang cukup tinggi, meskipun tidak sebanyak musim hujan. BMKG menyebut, kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, termasuk pengaruh La Nina yang melemah namun belum sepenuhnya hilang, serta aktifnya gelombang atmosfer MJO (Madden-Julian Oscillation) yang mendorong terbentuknya awan hujan.
“Memang secara klimatologis kita sudah masuk musim kemarau. Namun, masih ada daerah-daerah yang mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Inilah yang kami sebut kemarau basah,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, dalam keterangan resminya, Senin (19/5/2025).
Beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, dan sebagian Sumatra tercatat masih mengalami hujan harian meskipun seharusnya sudah masuk fase kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir lokal atau tanah longsor di daerah rawan, terutama di kawasan pegunungan dan daerah yang memiliki curah hujan tinggi meskipun sedang musim kemarau.
BMKG juga mengingatkan para petani untuk menyesuaikan pola tanam dan pengairan berdasarkan prediksi cuaca terbaru. Fenomena kemarau basah ini diprediksi akan bertahan hingga awal Juli 2025, sebelum akhirnya pola musim kemarau normal mulai mendominasi seluruh wilayah Indonesia.
Masyarakat disarankan untuk rutin memantau prakiraan cuaca harian dari BMKG dan mempersiapkan diri terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu selama masa transisi ini.














