Faktayogyakarta.id, NASIOANAL – Perusahaan teknologi Anthropic resmi menjalankan inisiatif baru bernama Project Glasswing pada Rabu (8/4/2026). Langkah strategis ini bertujuan untuk menangkal ancaman serangan siber berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dengan menggunakan kemampuan model AI itu sendiri sebagai alat pertahanan utama.
Menurut laporan awal, inisiatif tersebut secara khusus ditujukan untuk “mengamankan perangkat lunak paling penting di dunia” dari berbagai potensi serangan peretas yang mengeksploitasi teknologi AI. Dalam pelaksanaan eksekusinya, Anthropic menjalin kemitraan berskala global dengan sejumlah perusahaan teknologi multinasional dan organisasi besar. Mitra yang dilibatkan antara lain Amazon Web Services, Apple, Broadcom, Cisco, CrowdStrike, Google, JPMorgan Chase, Linux Foundation, Microsoft, NVIDIA, serta Palo Alto Networks.
Untuk menjalankan Project Glasswing Anthropic secara optimal, seluruh perusahaan dan organisasi yang terlibat akan memanfaatkan model AI terbaru milik Anthropic yang bernama Claude Mythos. Model yang belum dirilis ke publik secara resmi ini akan digunakan untuk meningkatkan proyek keamanan siber di masing-masing entitas. Mythos sendiri adalah model serbaguna untuk sistem AI Claude besutan Anthropic. Pihak perusahaan mengklaim bahwa model mutakhir ini memiliki kemampuan pengodean dan penalaran agen yang kuat.
Berdasarkan hasil uji coba teknis, Anthropic mengklaim model AI tersebut telah menemukan ribuan celah keamanan siber yang rawan dieksploitasi. Kerentanan tersebut terdeteksi tersebar luas pada berbagai sistem operasi dan peramban web (web browser). Meskipun pada awalnya sistem ini tidak secara khusus dilatih untuk menangani pekerjaan keamanan siber secara spesifik, perusahaan memastikan Claude Mythos dapat diandalkan. Alat ini mampu memindai sistem perangkat lunak pihak pertama dan sumber terbuka (open source) guna mencari kerentanan kode.
Melalui pengimplementasian Project Glasswing Anthropic, perusahaan menyatakan kesiapannya untuk mulai menggunakan alat-alat teknologinya secara defensif. Hal ini dinilai krusial untuk mencegah penyalahgunaan AI yang dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi ekosistem perekonomian dan keamanan digital.
Anthropic selama ini dikenal sebagai salah satu pengembang AI yang menyoroti masalah etika dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Sikap tegas tersebut sempat menuai polemik pada awal tahun ini ketika perusahaan menolak permintaan untuk menghapus pembatasan pada layanannya yang digunakan untuk kepentingan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Keputusan penolakan tersebut memicu reaksi keras, di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat akhirnya memberikan sanksi kepada Anthropic dengan menetapkan perusahaan tersebut sebagai “risiko rantai pasok.”














