Faktayogyakarta.id, NASIONAL – Pemerintah Inggris resmi mencabut visa perjalanan elektronik (Electronic Travel Authorisation/ETA) milik penyanyi rap asal Amerika Serikat, Kanye West. Keputusan tegas yang membuat Kanye West dicekal Inggris tersebut berujung pada pembatalan secara total perhelatan Wireless Music Festival di London yang sedianya akan digelar pada bulan Juli mendatang.
Mengutip laporan Hollywood Reporter pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat, pria yang kini mengganti namanya menjadi Ye tersebut dijadwalkan menjadi penampil utama (headliner) dalam festival musik yang berlangsung selama tiga malam di Finsbury Park, London. Pihak penyelenggara acara akhirnya memutuskan untuk membatalkan seluruh rangkaian konser akibat pencabutan izin masuk sang artis.
“Kementerian Dalam Negeri telah mencabut ETA (visa perjalanan elektronik) YE, sehingga ia tidak bisa memasuki wilayah Inggris. Akibatnya, Wireless Festival dibatalkan dan pengembalian dana akan diberikan kepada seluruh pemegang tiket,” demikian pernyataan resmi penyelenggara acara tersebut.
Munculnya nama West dalam deretan penampil sebelumnya telah memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara terbuka mencemaskan kehadiran West mengingat rekam jejak sang musisi yang kerap melontarkan pernyataan bernada antisemitisme dan glorifikasi terhadap pergerakan Nazisme.
“Antisemitisme dalam bentuk apa pun sangat tidak dapat diterima dan harus dilawan dengan tegas di mana pun muncul. Semua pihak bertanggung jawab memastikan Inggris menjadi tempat yang aman bagi komunitas Yahudi,” tutur Starmer.
Menjelang pengumuman pembatalan festival, Pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa penolakan izin masuk bagi Kanye didasarkan pada alasan bahwa kehadirannya tidak kondusif bagi kepentingan publik. Deretan tindakan kontroversial yang membuat Kanye West dicekal Inggris ini dilatarbelakangi oleh rekam jejak buruknya, mulai dari perilisan lagu berjudul “Hail Hitler” pada tahun 2025, penjualan kaus bergambar swastika di situs Yeezy, hingga pernyataan publiknya yang secara terbuka menyangkal peristiwa Holocaust.
Pada awal tahun ini, West sebenarnya telah menyampaikan permohonan maaf atas perilaku antisemitiknya melalui sebuah iklan di Wall Street Journal. Ia membeberkan bahwa tindakannya sangat dipengaruhi oleh pergulatan kesehatan mental dan gangguan bipolar yang diidapnya. Ia mengaku sangat malu dan menyatakan sempat kehilangan kontak dengan realitas akibat rentetan episode manik.
Menanggapi pencekalan terbarunya ini, West merilis pernyataan resmi. Ia berharap pihak otoritas dapat memberikannya kesempatan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh komunitas Yahudi di Inggris guna membuka ruang dialog secara langsung.
“Saya tahu kata-kata saja tidak cukup,” tulisnya, seraya menjelaskan niatnya datang ke London untuk membawa pesan persatuan, perdamaian, dan cinta.
“Saya harus menunjukkan perubahan melalui tindakan. Jika Anda terbuka, saya ada di sini,” kata West menutup pernyataannya.














