YOGYAKARTA – Keberadaan pengamen di tempat-tempat wisata masih menjadi masalah sosial di Yogyakarta.
Kasi Penyidikan Satpol PP Kota Jogja, Ahmad Hidayat mengatakan sejatinya upaya penertiban pengamen sudah gencar dilakukan.
Salah satunya di kawasan Malioboro. Akan tetapi pengamen kerap kali kucing-kucingan.
Beberapa di antaranya bahkan sengaja beroperasi pada tengah malam untuk menghindar dari petugas.
Selain Malioboro, Pasar Ngasem juga sering menjadi lokasi favorit bagi pengamen.
Bahkan, beberapa waktu lalu sempat viral usai seorang wisatawan mengeluh di media sosial.
“Pengamen yang viral di Malioboro setelah diproses pembinaan dia pindah ke Pasar Ngasem. Kemarin kami gelar operasi yustisi tidak tertangkap satupun karena sudah dikumpulkan oleh pihak Polsek Kraton dan Gedongtengen,” ujar Hidayat.
Hidayat mengatakan pengamen yang berpindah dari Malioboro ke Pasar Ngasem itu berjumlah 10 orang.
Sebanyak sembilan orang di antaranya merupakan warga Gedongtengen. Satu lainnya merupakan warga Patehan.
Pengamen ditegur dan dibina, diminta untuk membuat surat pernyataan agar tak lagi menjalankan aksi mengamennya.
“Rata-rata mereka di tempat-tempat keramaian dan insidentil. Seperti pascalibur akhir tahun, libur hari raya, libur anak-anak sekolah. Itu mereka pasti muncul,” imbuhnya.
Hidayat menyebut, meski upaya yustisi hingga saat ini belum diterapkan pihaknya akan terus memperketat sanksi.
Ke depan, Satpol PP Kota Jogja akan mempertimbangkan untuk melakukan penyitaan sarana yang dibawa oleh pengamen. (sya)














