FaktaYogyakarta.id, YOGYAKARTA – Permasalahan internal yang berkepanjangan dalam tubuh Partai Ummat akhirnya memicu langkah drastis. Pengurus Partai Ummat DIY membubarkan diri sebagai bentuk protes terhadap keputusan Majelis Syura yang dinilai inkonstitusional dan tidak demokratis.
Eks Wakil Ketua Umum DPP Partai Ummat, Nazaruddin, mengonfirmasi bahwa seluruh jajaran pengurus struktural dari tingkat provinsi hingga kelurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta telah resmi mengundurkan diri.
“Kita Partai Ummat yang di DIY itu menyatakan membubarkan diri. Secara simbolis, kami sudah membuang KTA,” ujar Nazaruddin, Selasa (3/6/2025).
Secara total, hampir 500 pengurus Partai Ummat DIY mengambil sikap serupa. Nazaruddin menyebut, pemicu utama konflik adalah perubahan mendadak Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai yang dilakukan Majelis Syura pada akhir 2024 tanpa proses musyawarah dan pertanggungjawaban yang jelas.
Keputusan tersebut menghilangkan mekanisme demokratis seperti Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, serta pertanggungjawaban ketua umum dan pengurus lainnya.
“Masa partai politik tidak ada pertanggungjawaban? RT saja ada pertanggungjawaban,” tegas Nazaruddin.
Puncaknya terjadi pada Musyawarah Majelis Syura 16 Februari 2025 di Yogyakarta, yang memutuskan membubarkan seluruh pengurus lama dan mengangkat Ridho Rahmadi—menantu Amien Rais—sebagai Ketua Umum Partai Ummat periode 2025–2030. Langkah ini dinilai cacat prosedur dan dituding sebagai upaya mengamankan posisi Ridho tanpa melalui proses demokratis.
“Ini semua jelas bertujuan melapangkan jalan Ridho Rahmadi kembali menjadi ketua umum tanpa mekanisme pertanggungjawaban. Kami anggap itu tidak adil,” tambahnya.
Bersama 20 pengurus DPW dari provinsi lain, Nazaruddin sempat menggalang penolakan melalui petisi. Namun upaya tersebut kandas setelah AD/ART baru disahkan oleh Kementerian Hukum pada 7 Mei 2025 dan diserahkan ke DPP seminggu kemudian.
Mengaku kecewa, Nazaruddin akhirnya mundur dari partai besutan Amien Rais tersebut, bersama pengurus DIY lainnya.
“Kami tidak sedang merebut kekuasaan. Kami hanya ingin meluruskan yang bengkok,” pungkasnya.














