Dua Pemotor di Kulon Progo Terluka Usai Hindari Benang Layangan di Jalan Wates-Jogja

Benang layangan
Peristiwa nahas menimpa dua pengendara sepeda motor di Jalan Wates-Jogja Km. 3, tepatnya di Dusun Karongan, Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo, pada Minggu (13/7/2025) sekitar pukul 14.30 WIB (dok.ist/FaktaYogyakarta.id)

FaktaYogyakarta.id, KULON PROGO – Peristiwa nahas menimpa dua pengendara sepeda motor di Jalan Wates-Jogja Km. 3, tepatnya di Dusun Karongan, Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo, pada Minggu (13/7/2025) sekitar pukul 14.30 WIB. Keduanya mengalami luka dan harus dilarikan ke RSUD Wates akibat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh benang layangan yang melintang di tengah jalan.

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, kecelakaan ini bermula saat pengendara motor berinisial Al (44), warga Kota Yogyakarta, sedang melaju dari arah Wates menuju Jogja. Saat sampai di lokasi kejadian, ia menghindari pemotor yang berhenti mendadak karena ada benang layangan membentang di jalan. Namun, saat berusaha menghindar, Al justru tertabrak oleh pemotor lain, MI (28), warga Panjatan, yang melaju searah di belakangnya.

Benturan keras menyebabkan keduanya terjatuh ke aspal dan mengalami luka cukup serius. Warga sekitar segera memberikan pertolongan dan menghubungi petugas medis. Keduanya kemudian dirujuk ke RSUD Wates untuk mendapatkan perawatan intensif.

Peristiwa ini menyoroti kembali bahaya benang layangan yang melintang di jalan, terutama di jalur ramai seperti Jalan Wates-Jogja. Tak hanya membahayakan pengendara, benang layangan—terutama yang berbahan nilon atau diberi serbuk kaca (gelasan)—juga dapat menyebabkan luka fatal jika mengenai tubuh.

Warga dan orang tua diminta untuk lebih mengawasi aktivitas bermain layangan, terutama di dekat jalan raya. Penggunaan benang layangan yang sembarangan tidak hanya melanggar peraturan, tapi juga berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

Pihak kepolisian mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati saat berkendara, terutama di musim kemarau saat aktivitas bermain layangan meningkat. Diharapkan juga ada kesadaran kolektif untuk tidak bermain layangan di area yang dekat dengan lalu lintas padat.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa hal kecil seperti benang layangan di jalan bisa berujung pada kecelakaan serius. Untuk itu, kewaspadaan dan kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *