Sejoli Terpergok Mesum di Kebun Jati Gunungkidul, Pria ASN Kabur 7 Kilometer Hanya Pakai Celana Dalam

Malam tenang di kawasan perbatasan Piyaman dan Logandeng, Gunungkidul, mendadak gempar setelah warga memergoki sepasang sejoli tengah berbuat mesum di tengah kebun jati. (dok.ist/FaktaYogyakarta.id)

FaktaYogyakarta.id, GUNUNGKIDUL — Malam tenang di kawasan perbatasan Piyaman dan Logandeng, Gunungkidul, mendadak gempar setelah warga memergoki sepasang sejoli tengah berbuat mesum di tengah kebun jati. Kejadian yang berlangsung pada Jumat malam ini menyita perhatian publik, bukan hanya karena perbuatannya, tetapi juga aksi dramatis sang pria yang kabur sejauh 7 kilometer hanya mengenakan celana dalam.

Pelaku pria diketahui berinisial SMD (41), seorang ASN yang bekerja sebagai staf tata usaha di salah satu SMK Negeri di Wonosari. Ia berasal dari Gading 1. Sementara pasangannya, MYN, adalah seorang ibu rumah tangga bersuami yang tinggal di Gading 9.

Keduanya diduga telah merencanakan pertemuan terlarang ini dengan membawa tikar ke area ladang yang sepi di bawah pohon jati. Kecurigaan warga bermula saat melihat dua sepeda motor terparkir di lokasi gelap dengan lampu menyala. Setelah dilakukan penyisiran, warga dibuat kaget melihat pasangan tersebut dalam posisi tak senonoh.

Panikan, SMD langsung melarikan diri tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap. Ia meninggalkan celana, dompet, bahkan sepeda motornya. Warga yang mengejar hanya menemukan pakaian dan alat kontrasepsi yang ditinggalkan di lokasi. Aksi pelariannya pun menjadi sorotan karena diketahui SMD menempuh jarak 7 kilometer hanya dengan celana dalam, untuk pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya, pada Sabtu (19/7), SMD dan MYN datang ke rumah Dukuh Piyaman 2 untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada warga setempat. “Kami beri sanksi sosial berupa kerja bakti membersihkan lokasi dan permintaan maaf terbuka,” ujar Rahmad Widiyanta, Dukuh Piyaman 2.

Lurah Gading, Rugiyanto, juga turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan menyatakan bahwa proses sanksi kepegawaian akan diserahkan kepada dinas terkait.

Kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga moralitas publik dan tanggung jawab sosial, terutama bagi aparatur negara yang seharusnya memberi teladan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *