Status Gunung Merapi Siaga Level III: Guguran Lava Capai 1.700 Meter, Warga Diminta Waspada

suasana gunung merapi
Suasana di sekitar Gunung Merapi (dok.ist/FaktaYogyakarta.id)

FaktaYogyakarta.id, YOGYAKARTA — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Saat ini, Gunung Merapi berada pada Level III atau Siaga, dengan dua kali guguran lava teramati ke arah barat daya, tepatnya menuju Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum dari guguran tersebut mencapai 1.700 meter, berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Minggu (1/6/2025).

Gunung Merapi siaga menjadi perhatian utama masyarakat, khususnya yang berada di sekitar lereng selatan dan barat daya gunung. Potensi bahaya yang diidentifikasi saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya, termasuk Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Sementara itu, sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol juga masuk dalam zona rawan dengan potensi luncuran maksimal masing-masing 3 km dan 5 km.

Selain itu, potensi lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif bisa mencapai radius 3 km dari puncak. Data pemantauan juga menunjukkan bahwa suplai magma masih terus berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya.

Pemerintah dan BPPTKG menyampaikan beberapa rekomendasi penting bagi masyarakat:

Hindari aktivitas apapun di area yang masuk dalam zona potensi bahaya erupsi Merapi.
Waspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Merapi.

Masyarakat juga diimbau untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik, seperti gangguan pernapasan dan terganggunya aktivitas harian.
Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, maka status Gunung Merapi akan segera ditinjau ulang.

Pihak berwenang terus memantau situasi secara ketat. Bagi warga yang tinggal di daerah terdampak, kewaspadaan tinggi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menghindari risiko bencana yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *