FaktaYogyakarta.id,YOGYAKARTA — Kasus leptospirosis di Kota Jogja mengalami lonjakan signifikan sepanjang pertengahan 2025. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menunjukkan, setidaknya 19 kasus leptospirosis tercatat hingga Juli 2025 dan telah mengakibatkan enam pasien meninggal dunia. Lonjakan ini memicu kekhawatiran serius di tengah masyarakat, terutama di kawasan padat penduduk.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie, menjelaskan bahwa penyebaran leptospirosis sangat berkaitan erat dengan perilaku masyarakat serta kondisi lingkungan yang tidak sehat. “Di perkotaan, kasus leptospirosis berkorelasi kuat dengan masalah persampahan dan kebersihan saluran air seperti got dan gorong-gorong,” ungkapnya, Sabtu (12/7/2025).
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, yang ditularkan melalui urine atau cairan tubuh hewan, terutama tikus. Penyakit ini rawan muncul saat musim hujan atau di wilayah dengan sanitasi buruk. “Sementara di daerah pedesaan, penyebaran penyakit ini kerap terjadi melalui aktivitas pertanian, terutama saat para petani berkontak langsung dengan air sawah yang tercemar,” tambah Pembajun.
Dinkes DIY menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan gejala leptospirosis. Beberapa gejala umum yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi, pusing, mual, muntah, dan nyeri otot, terutama setelah kontak dengan lingkungan yang kotor seperti selokan, sawah, atau sampah.
“Jika warga mengalami gejala tersebut, terutama usai beraktivitas di lokasi yang berisiko, kami imbau segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu hingga parah karena keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal,” tegasnya.
Sebaran kasus tertinggi terdapat di 11 kemantren di Kota Jogja, yaitu Mantrijeron, Mergangsan, Gondokusuman, Kotagede, Umbulharjo, Pakualaman, Gedongtengen, Ngampilan, Wirobrajan, Jetis, dan Tegalrejo. Enam kematian berasal dari wilayah Pakualaman, Gedongtengen, Ngampilan (2 kasus), Wirobrajan, dan Jetis.
Pembajun menekankan bahwa pengendalian leptospirosis membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, komunitas, hingga warga perlu bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan aktif melakukan pemberantasan tikus sebagai sumber utama penularan.
Dengan meningkatnya kasus leptospirosis di Jogja, masyarakat diimbau tidak lengah dan segera bertindak jika muncul gejala yang mencurigakan. Pemeriksaan dan pengobatan dini adalah langkah penting untuk menekan angka kematian akibat penyakit ini.














